Di bawah temaram lampu pameran, bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan sebuah Sasando, jiwa yang dibungkus daun lontar. Saat jari-jemari mulai menyentuh dawai, atmosfer itu seakan berubah. Bukan lagi sekadar pameran, melainkan sebuah ritual.
Setiap petikan pertama bukanlah sekadar nada, melainkan dentuman lembut namun bertenaga yang bergema langsung ke dalam hati. Dentuman itu adalah detak jantung Rote Ndao.
Melodi Hembusan Angin Laut
Ketika nada-nada tinggi mulai melengking dari Sasando, di sanalah terdengar suara angin laut yang tak pernah berhenti berembus di sepanjang pantai Nembrala atau Oeseli. Ada kebebasan, keberanian, dan semangat yang tak kenal menyerah dari para pelaut Rote yang terlukis dalam setiap melodi yang membubung. Suara itu tajam dan jernih, seperti langit biru tanpa awan di atas Pulau Rote.
Irama Gelombang yang Menghantam Karang.Namun, Sasando tidak hanya berdenting; ia berdentum. Jauh di balik melodi utamanya, ada ‘dentuman’ bas yang dimainkan oleh ibu jari—berat, stabil, dan berulang. Itulah suara gelombang Samudra Hindia yang menghantam tebing-tebing karang di Rote Ndao. Itu adalah simbol kekuatan, ketahanan, dan keteguhan hati masyarakat Rote dalam menghadapi tantangan zaman, sekokoh karang-karang yang menjadi benteng pulau mereka.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PotretNTT.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












