Distribusi Program MBG di Rote Ndao Disorot, Paket Sepekan Dibagikan Sekaligus

Avatar photo
Reporter : Mekris Ruy Editor: Yeri Sula
1773622507508

Selain soal jumlah makanan, pola distribusi sekaligus juga dinilai berpotensi menimbulkan persoalan lain. Beberapa jenis makanan seperti telur rebus, buah, maupun roti memiliki daya tahan yang terbatas jika tidak disimpan dengan baik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas makanan ketika dikonsumsi beberapa hari setelah dibagikan.

Program MBG sendiri merupakan salah satu program yang digadang-gadang sebagai langkah penting dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, terutama bagi siswa usia dini dan sekolah dasar. Program ini diharapkan dapat membantu mencegah masalah gizi buruk, stunting, serta meningkatkan konsentrasi belajar anak di sekolah. Karena itulah, pelaksanaan di lapangan seharusnya dilakukan secara ketat dan terukur, mulai dari standar menu, kualitas bahan makanan, hingga pola distribusinya.

Di sisi lain, masyarakat juga berharap adanya transparansi dari pihak penyelenggara program terkait standar menu yang digunakan. Publik menilai penting untuk mengetahui apakah komposisi makanan yang diberikan kepada anak-anak telah melalui perhitungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan usia mereka.

“Program ini sangat baik untuk anak-anak, tapi harus benar-benar dijalankan sesuai standar. Jangan sampai niat baik program ini justru menimbulkan tanda tanya di masyarakat,” ungkap salah satu warga Rote Ndao pada media ini.

Kepala SPPG Ofalangga, Yandri Beama saat dikonfirmasi media ini melalui pesan WhatsApp pada,Senin (16/3/2026) sama sekali tak memberikan respon dan jawaban ataupun penjelasan apapun kepada media ini.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak SPPG Ofalangga maupun instansi terkait mengenai mekanisme pembagian paket MBG tersebut, termasuk alasan mengapa makanan disebut dibagikan sekaligus untuk kebutuhan selama tujuh hari.

Situasi ini membuat publik menunggu klarifikasi yang jelas dari pihak berwenang. Sebab, program yang menyangkut gizi dan kesehatan anak-anak tentu tidak boleh dijalankan secara asal-asalan. Jika benar praktik pembagian seperti ini terjadi, maka evaluasi terhadap pola distribusi program MBG menjadi hal yang penting agar tujuan utama program meningkatkan kualitas gizi anak benar tercapai, bukan sekadar formalitas program di atas kertas.

Baca Juga :   Didampingi Pj.Gubernur NTT,Presiden Jokowi Kunjungi SMK Negeri 5 Kota Kupang
Sumber: PotretNTT.Com