Perwakilan mahasiswa S2 IKM Undana, Defrima Haning, menekankan bahwa kelompok disabilitas memiliki kerentanan yang jauh lebih tinggi jika hak aksesibilitas dan dukungan khusus mereka terabaikan saat situasi darurat.
“Upaya pengurangan risiko bencana harus dilaksanakan dengan menerapkan prinsip inklusif, yaitu memberikan kesempatan, perlindungan, akses informasi, dan pelayanan yang setara bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali,” ujar Defrima.
Melalui dialog ini, peserta juga diajak menyadari bahwa mitigasi bencana merupakan tanggung jawab kolektif yang melibatkan keluarga, masyarakat, pemerintah, akademisi, hingga organisasi difabel. Kolaborasi ini krusial demi terciptanya sistem perlindungan yang menyeluruh.
“Kami berharap penyandang disabilitas semakin siap menghadapi situasi bencana, sementara masyarakat semakin memahami pentingnya memberikan dukungan kepada kelompok rentan. Kesiapsiagaan bukan hanya tentang menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal (Leave No One Behind),” tutup Defrima.
Kegiatan edukasi ini diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen dan kolaborasi berkelanjutan antara akademisi Undana dengan komunitas difabel. Agenda ini diharapkan dapat memicu penguatan literasi kebencanaan, memperluas jejaring kerja sama, dan memastikan keselamatan bencana yang setara bagi seluruh warga Kabupaten Rote Ndao.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp PotretNTT.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












