ROTE NDAO,PotretNTT.Com – Harapan petani di hamparan sawah Modale, Desa Serubeba, Kecamatan Rote Timur,Kabupaten Rote Ndao untuk meraup untung dari hasil panen tahun ini terancam sirna.
Krisis air hebat melanda kawasan tersebut, namun ironisnya, kekeringan ini diduga bukan murni faktor alam, melainkan akibat karut-marut tata kelola dan praktik nepotisme yang dilakukan oleh oknum pengelola.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Kamis (15/04/2026), ketidakadilan distribusi air irigasi menjadi keluhan utama. Air yang seharusnya menjadi hak kolektif diduga hanya dialirkan ke lahan-lahan milik Ketua Lokasi Pertanian (Manemok) serta lingkaran terdekatnya.
Kondrat Sisa, salah satu petani terdampak, mengungkapkan kekecewaannya saat ditemui di lokasi. Ia menegaskan bahwa debit air sebenarnya mencukupi jika dibagi secara rata.
“Kami hanya bisa melihat lahan kami kering hingga retak, sementara di bagian lain air melimpah karena hanya dinikmati pihak pengelola dan ketuanya saja. Ini murni kelalaian dan ketidakadilan,” ujar Kondrat dengan nada getir.

Selain masalah distribusi yang tidak merata, muncul fakta baru yang menambah beban para petani. Di tengah ancaman gagal panen, tersiar kabar adanya upaya pungutan uang sebesar Rp27.000 per orang yang dilakukan oleh Ketua Kelompok Tani dan Ketua Lokasi (Manemok) kepada para petani.
“Kepala subak (manemok) Anderias Tupu dengan Jefri tassi minta kita petani perorang itu 27ribu katanya untuk dong (mereka) punya uang cape hari siapa yang tidak kasih maka air tidak kasih ke sawah. Ujar Kondrat
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












