Selain persoalan kuota, buruknya sistem antrean pada hari libur ini juga dinilai sangat provokatif. Warga mengeluhkan adanya aksi serobot jalur yang dilakukan oleh kendaraan dinas (berpelat merah) tanpa harus mengikuti prosedur antrean yang sudah mengular hingga berjam-jam.Ironisnya, petugas operator nosel di lapangan terkesan membiarkan aksi serobot tersebut dan langsung memprioritaskan pengisian bagi kendaraan-kendaran tersebut.
“Kami sudah mengantre setengah mati, tapi mobil pelat merah datang langsung serobot masuk jalur dan petugas nosel langsung melayani. Ini kalau dibiarkan lama-lama bisa memancing amarah massa. Sistem seperti ini memicu kegaduhan, padahal ini hari libur,” cetus salah seorang warga di lokasi antrean.
Ia bahkan secara blak-blakan menuding adanya praktik mafia dalam tata kelola BBM di SPBU tersebut dan mengklaim telah mengantongi sejumlah bukti.
Atas rentetan kejadian mengecewakan tersebut, warga mengaku telah melayangkan laporan resmi ke pihak berwenang dan layanan pengaduan Pertamina di nomor 135 dan 136 untuk ditindaklanjuti secara hukum.
Masyarakat menegaskan, tuntutan utama mereka saat ini adalah pembersihan manajemen SPBU Sanggaoen, dimulai dari pencopotan penanggung jawab saat ini. Jika aspirasi tersebut diabaikan oleh pihak pemilik (Toko Piet), warga mengancam akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di lokasi SPBU.
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak manajemen Toko Piet selaku pemilik SPBU maupun Ny. Risty selaku penanggung jawab untuk mendapatkan klarifikasi perimbangan berita.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












