“Iya, itu suami saya punya minyak. Itu bukan subsidi, itu jenis Pertamax dan dia juga ada izin,” ujar Ny. Risti.
Rakyat Menjerit, Harga di Eceran Mencekik
Ketimpangan distribusi ini berdampak sistemik pada harga di tingkat konsumen. Di Kota Baa, masyarakat terpaksa membeli Pertamax dengan harga “selangit”, berkisar antara Rp16.000 hingga Rp20.000 per liter. Bahkan, ditemukan praktik penjualan setengah liter seharga Rp15.000 dengan takaran yang tidak akurat.
Melki, warga Kelurahan Mokdale, meluapkan kekecewaannya atas ketidakadilan ini.
“Kami masyarakat cari BBM putar-putar satu Kota Baa susah sekali. Datang ke SPBU, dibilang hanya melayani kupon. Ternyata penanggung jawab SPBU sendiri jadi pedagang. Ini harus dipanggil DPRD dan aparat penegak hukum!” tegasnya.
Desakan Investigasi dari APH dan DPRD
Kecurigaan warga semakin kuat lantaran SPBU Sanggaoen kerap tutup dengan alasan stok habis meski baru beroperasi dua hari. Kondisi ini memicu desakan luas agar Polres Rote Ndao dan DPRD Rote Ndao segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh.
Publik menuntut transparansi manajemen dan sanksi tegas jika terbukti terjadi penyalahgunaan wewenang. Masyarakat berharap pemerintah tidak membiarkan praktik “mafia” distribusi ini terus menyengsarakan warga di wilayah selatan NKRI tersebut.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












